LSP Paparkan Laporan Kinerja Tahunan

lap kin

LSP Unpam – Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Pamulang mengundang para pejabat struktural di lingkungan kampus, Rabu (19/2/2020). Tujuan acara yang dihadiri oleh Ketua Yayasan Sasmita, Rektor beserta para Wakil Rektornya, para Dekan, para Ketua Lembaga, dan para Ketua Program Studi tersebut adalah untuk memaparkan laporan kinerja tahunan, mensosialisasikan rencana pengembangan skema uji kompetensi baru, serta mensinkronisasikan kesesuaian unit uji kompetensi dengan kurikulum.

Ketua LSP Unpam, Dr. Iin Rosini, S.E., M.Si., CSRS, CFA, CFRM, CAP menjelaskan bahwa hingga saat ini mahasiswa yang mendaftar uji kompetensi mencapai 12.993. Dari jumlah ini, baru sebesar 19,63% yang dinyatakan kompeten. Atas dasar itu, pihaknya berencana untuk menambah jumlah skema uji kompetensi selain untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja juga dapat menjadi alternatif bagi mahasiswa untuk memilih skema uji kompetensi yang benar-benar dikuasainya.

“Target tahun ini, kami ingin meningkatkan jumlah asesi sebanyak 16.500 orang dalam setahun. Kami juga akan mengajukan 15 skema uji kompetensi baru,”ucapnya.

Di tempat yang sama, Rektor Dr H Dayat Hidayat, M.M menjelaskan, diperlukan upaya yang serius dari setiap sektor untuk meningkatkan persentase kelulusan mahasiswa dalam uji kompetensi. Menurutnya, diperlukan penguatan di tingkat program studi agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berorientasi pada kompetensi mahasiswa.

“Ini sarana kita mengevaluasi diri. Apakah skema uji kompetensinya yang tidak cocok, ataukah memang mata kuliahnya yang tidak sesuai. Diperlukan sinkronisasi antara program studi dengan LSP, agar apa yang diujikan kepada mahasiswa itu benar-benar sudah dikuasai,”ucapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan, Dr (HC) H Darsono mengatakan, mirip dengan memasak, dalam memahami persoalan minimnya tingkat kompetensi ini setidaknya harus dilihat dari 3 aspek yaitu bahannya, resepnya, dan chief nya. Bahannya dalam hal ini adalah mahasiswanya, ada keinginan yang kuat atau tidak dari mahasiswa untuk dinyatakan kompeten.

“Kemudian resepnya itu adalah komposisi mata kuliah atau kurikulumnya, sudah sesuai atau belum. Lalu juga chief nya atau dosen nya, apakah dosen-dosen kita itu juga harus dievaluasi. Saya kira ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,”ucapnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *